The Occam's Razor
kenapa penjelasan yang paling sederhana biasanya adalah yang paling benar
Pernahkah kita terbangun jam dua pagi karena mendengar suara benda jatuh dari arah dapur? "Prang!" bunyinya lumayan keras. Jantung kita langsung berdebar. Di momen sepersekian detik itu, otak kita mulai menyusun berbagai skenario. Skenario pertama, ada maling yang sedang mencoba membobol rumah. Skenario kedua, mungkin itu poltergeist atau hantu penunggu rumah yang sedang marah. Skenario ketiga, mungkin ada agen rahasia yang salah alamat dan masuk ke dapur kita.
Lalu, kita memberanikan diri berjalan mengendap-endap ke dapur. Kita menyalakan lampu. Dan di sana, kita melihat kucing peliharaan kita sedang menatap polos di sebelah gelas yang pecah.
Bukan maling. Bukan hantu. Apalagi agen rahasia. Cuma si Meng yang sedang iseng.
Kisah malam hari ini mungkin terdengar konyol. Namun, ini adalah contoh sempurna dari cara kerja otak kita sehari-hari. Kita punya kecenderungan alami untuk memikirkan skenario yang rumit, dramatis, dan penuh konspirasi, padahal jawabannya sering kali sangat sepele. Pertanyaannya, mengapa kita sering kali memilih untuk overthinking ketimbang melihat jawaban yang ada di depan mata?
Secara psikologis dan evolusioner, otak kita memang didesain sebagai mesin pencari pola. Di zaman purba dulu, kemampuan menebak bahaya yang tersembunyi adalah kunci keselamatan hidup. Nenek moyang kita yang mendengar kresek-kresek di semak belukar dan berpikir "itu pasti harimau" akan selamat. Sebaliknya, mereka yang berpikir "ah, itu cuma angin" mungkin tidak hidup cukup lama untuk mewariskan gen mereka.
Masalahnya, perangkat lunak otak purba ini masih kita pakai di dunia modern. Kita jadi sering melihat pola di tempat yang sebenarnya tidak ada apa-apa.
Fenomena ini punya nama dalam dunia psikologi: apophenia. Kita menghubung-hubungkan kejadian yang tidak saling terkait menjadi satu cerita yang megah dan rumit. Teman-teman pasti pernah melihat betapa cepatnya teori konspirasi menyebar di grup WhatsApp keluarga, bukan? Saat ada kejadian besar, penjelasan bahwa itu murni kecelakaan atau kebetulan sering kali terasa tidak memuaskan. Otak kita seolah menuntut drama. Kita merasa dunia ini terlalu besar untuk sekadar diatur oleh kebetulan-kebetulan kecil yang membosankan.
Namun, mari kita tahan sebentar dorongan untuk mendramatisir keadaan ini. Karena ternyata, ilmu pengetahuan punya sebuah alat pelindung diri untuk melawan ilusi pikiran kita sendiri.
Untuk menemukan alat ini, kita harus mundur sedikit ke abad ke-14. Saat itu, para astronom dan filsuf sedang berdebat keras tentang bagaimana alam semesta ini bekerja. Sebelum Copernicus membuktikan bahwa bumi mengelilingi matahari, orang-orang percaya bahwa bumilah pusat tata surya. Model ini disebut geosentrisme.
Tapi ada satu masalah besar. Kalau bumi adalah pusatnya, pergerakan planet-planet di langit jadi terlihat sangat aneh dan tidak masuk akal. Untuk mempertahankan teori bumi sebagai pusat alam semesta, para ilmuwan zaman itu harus menciptakan rumus matematika yang luar biasa ruwet. Mereka menyebutnya epicycles, yaitu sebuah teori di mana planet-planet bergerak dalam lingkaran-lingkaran kecil di dalam lingkaran yang lebih besar. Rumusnya panjang, berbelit-belit, dan penuh asumsi.
Di tengah kebingungan dan keruwetan ini, muncullah seorang biarawan sekaligus ahli logika dari Inggris bernama William of Ockham. William ini melihat fenomena di mana orang-orang berilmu justru tersesat dalam kerumitan teori mereka sendiri.
William lalu merumuskan sebuah prinsip berpikir yang sangat tajam. Saking tajamnya prinsip ini, kelak sejarah menamainya sebagai sebuah "pisau cukur". Prinsip ini akan mengubah cara ilmuwan, detektif, dan dokter dalam memecahkan masalah hingga berabad-abad kemudian.
Prinsip itu kini kita kenal dengan nama Occam's Razor atau Pisau Cukur Occam.
Bunyi aslinya dalam bahasa Latin adalah pluralitas non est ponenda sine necessitate. Artinya: entitas tidak boleh diperbanyak tanpa adanya kebutuhan. Atau jika diterjemahkan ke dalam bahasa sehari-hari: jika ada dua penjelasan untuk satu masalah, penjelasan yang paling sederhana biasanya adalah yang paling benar.
Kenapa disebut pisau cukur? Karena prinsip ini digunakan untuk "mencukur" asumsi-asumsi berlebihan yang tidak perlu.
Mari kita bedah secara hard science. Mengapa ilmu pengetahuan dan matematika sangat menyukai kesederhanaan? Jawabannya ada pada hukum probabilitas. Setiap kali kita menambahkan satu asumsi baru ke dalam sebuah penjelasan, kita sedang memperbesar peluang untuk salah.
Kembali ke contoh awal kita. Untuk percaya bahwa gelas di dapur dijatuhkan oleh hantu, kita harus mengasumsikan beberapa hal: (1) roh manusia yang sudah mati itu ada, (2) roh tersebut bisa menembus dinding tapi entah bagaimana punya massa fisik untuk menyentuh gelas, dan (3) roh itu punya motif khusus untuk menghancurkan barang pecah belah kita.
Sebaliknya, untuk percaya bahwa kucing kitalah pelakunya, kita hanya butuh satu asumsi: kucing kita melakukan hal yang biasa dilakukan oleh seekor kucing.
Secara statistik, probabilitas satu asumsi yang terbukti benar jauh lebih tinggi dibandingkan tiga asumsi ganjil yang harus terjadi secara bersamaan. Inilah kejeniusan Occam's Razor. Ia tidak bilang bahwa hal yang rumit itu mustahil, ia hanya bilang: mulailah dari probabilitas matematika yang paling masuk akal. Makin sedikit variabel yang bergerak, makin kecil kemungkinan mesin teorinya akan rusak.
Tentu saja, dunia ini sesekali memang rumit. Kadang-kadang hal yang tidak terduga benar-benar terjadi. Penyakit langka itu ada. Konspirasi nyata di tingkat global juga pernah tercatat dalam sejarah. Occam's Razor bukanlah hukum mutlak yang tidak bisa dibantah, melainkan sebuah kompas mental.
Bagi saya dan teman-teman, prinsip ini adalah senjata yang sangat ampuh untuk menjaga kewarasan sehari-hari. Berapa banyak energi mental yang terkuras karena kita memikirkan hal-hal yang tidak perlu?
Ketika rekan kerja tidak menyapa kita di lorong kantor, penjelasan rumitnya adalah: dia membenci kita karena presentasi kita minggu lalu. Penjelasan sederhananya (berdasarkan Occam's Razor): dia sedang sakit perut atau menahan kencing. Ketika pesan kita lama tidak dibalas oleh pasangan, penjelasan rumitnya adalah dia sedang bosan dan mencari pelarian. Penjelasan sederhananya: dia ketiduran.
Kita adalah manusia yang penuh empati dan imajinasi, dan itu adalah hal yang indah. Namun, terkadang pikiran kita sendiri bisa menjadi tempat yang melelahkan. Di saat kecemasan mulai datang dan pikiran kita mulai menyusun skenario-skenario liar yang menakutkan, cobalah tarik napas panjang. Ambil "pisau cukur" bayangan kita, lalu potong semua asumsi yang tidak perlu.
Sering kali, dunia ini tidak sedang berkomplot melawan kita. Sering kali, itu memang cuma si kucing peliharaan yang sedang mencari perhatian di dapur.